RSS

Seputar tentang Beton

08 Jun

adukan beton

Adukan Beton direncanakan sedemikian rupa sehingga beton yang dihasilkan dapat dengan mudah dikerjakan dengan biaya yang serendah mungkin tentu saja.
Beton harus mempunyai workabilitas yang tinggi, memiliki sifat kohesi yang tinggi saat dalam kondisi plastis (belum mengeras), sehingga beton yang dihasilkan cukup kuat dan tahan lama.
Adukan (campuran) beton harus mempertimbangkan lingkungan di mana beton tersebut akan berdiri, misalnya di lingkungan tepi laut, atau beban-beban yang berat, atau kondisi cuaca yang ekstrim.

PROPORSIONAL
Reminder: Beton adalah campuran antara semen, agregat kasar dan halus, air, dan zat aditif.

Komposisi yang berbeda-beda di antara bahan baku beton mempengaruhi sifat beton yang dihasilkan pada akhirnya. Pembagian ini biasanya diukur dalam satuan berat. Pengukuran berdasarkan volume juga sebenarnya bisa, dan lebih banyak dilakukan pada konstruksi skala kecil, misalnya rumah tinggal.

 

SEMEN
Jika kadar semen dinaikkan, maka kekuatan dan durabilitas beton juga akan meningkat. Semen (bersama dengan air) akan membentuk pasta yang akan mengikat agregat mulai dari yang paling besar (kasar) sampai yang paling halus.

AIR
Sebaliknya, penambahan air justru akan mengurangi kekuatan beton. Air cukup digunakan untuk melarutkan semen. Air juga yang membuat adukan menjadi kohesif, dan mudah dikerjakan (workable).

RASIO AIR-SEMEN
Biasa disebut dengan w/c ratio alias water to cement ratio. Jika w/c ratio semakin besar, kekuatan dan daya tahan beton menjadi berkurang. Pada lingkungan tertentu, rasio air-semen ini dibatasi maksimal 0.40-0.50 tergantung sifat korosif atau kadar sulfat yang ada di lingkungan tersebut.

grafik

AGREGAT
agregat halus kebanyakan
Jika agregat halus terlalu banyak, maka adukannya akan terlihat “sticky“, encer, “lunak”, seperti tidak punya kekuatan. Dan setelah pemadatan, bagian atas adukan akan cenderung “kosong” alias tidak ada agregat.

agregat kasar kebanyakan
Sebaliknya, jika agregat kasar terlalu banyak, adukannya akan terlihat kasar, berbatu, kelihatan getas (rapuh). Agregat ini akan muncul di permukaan setelah dipadatkan.

PENCAMPURAN
Beton harus dicampur dan diaduk dengan baik sehingga sement, air, agregat, dan zat tambahan bisa tersebar merata di dalam adukan.

Beton biasanya dicampur dengan menggunakan mesin. Ada yang dicampur di lapangan (site) ada juga yang sudah dicampur sebelum dibawa ke lapangan, atau istilahnya ready-mix.

Untuk beton ready-mix, takarannya sudah diukur di batch plant, kemudian dicampur dan dimasukkan ke dalam truk. Selama perjalanan drum beton tersebut terus diputar agar beton tidak mengalami setting di dalam drum. Kan aneh kalau misalnya kena macet trus betonnya sudah mengeras di dalam drum. Kadang, di dalam perjalanan, bisa jadi karena lama di jalan, cuaca panas, atau kelamaan diputar, temperatur di dalam drum meningkat sehingga air menguap. Kondisi ini kadang “diakali” dengan memasukkan bongkahan es balok yang besar ke dalam drum, sehingga kadar air bisa tetap dipertahankan. Hmm.. kalo ditambah sedotan, drum truk itu bisa kita beri label “Jus Beton Segar”.. :D

Sementara beton yang dicampur dilapangan biasanya menggunakan mesin yang dinamakan MOLEN (mirip-mirip nama sejenis gorengan pisang). Sewaktu mencampur di lapangan, agregat terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tong (molen), kemudian diikuti oleh pasir dan terakhir semen. Semuanya dalam takaran tertentu sesuai dengan mutu beton yang diinginkan.
molen beton

Ada kata pepatah: Jangan menggunakan sekop untuk menakar adukan beton untuk molen! (Padahal ini yang sering dilakukan) :D
Ukuran takaran biasanya dinyatakan dalam satuan berat, sementara sekop tidak bisa mengukur berat. Jangan sampai rasio adukan 1:2:3 diartikan sebagai 1 sekop semen, 2 sekop pasir dan 3 sekop kerikil (agregat). Tentu saja hasil (mutu) yang diperoleh akan berbeda. Kecuali kalau ada sekop canggih yang bisa sekaligus mengukur berat muatannya. :) (hmm..)

pencampuran beton

Ketika semua bahan (kecuali air) sudah masuk, moleh diputar sehingga semua bahan tercampur. Katanya sih, kalau sudah tidak ada pasir yang terlihat secara kasat mata, berarti adukannya itu sudah merata. Saat itulah dilakukan penambahan air sedikit demi sedikit.

Molen punya kapasitas (volume). Mencampur terlalu penuh juga tidak efektif karena proses pencampurannya akan memakan waktu yang lebih lama. Sebaiknya molen diisi secukupnya dulu, kemudian jika sudah jadi, seluruh isi molen dituang ke wadah sementara sebelum diangkut atau dicor ke bekisting. Sewaktu adukan beton diangkut (dicor), molen bisa bekerja lagi untuk membuat adukan berikutnya. Begitu adukan pertama sudah dituang semua, molen pun sudah selesai membuat adukan kedua, jadi tidak ada delay ketika molen bekerja.

Nah, untuk skala yang sangat kecil, beton boleh dicampur dengan menggunakan sekop. Harus dilakukan di tempat yang datar dan bersih (maksudnya bebas dari ranting, daun, sampah, dan material pengganggu lainnya). Kerikil, pasir, dan semen diaduk/dicampur dulu, kemudian dibuat seperti gundukan, dan di puncaknya digali dibuat seperti danau untuk menampung air. Jika adukan dicampur di wadah yang sisi-sisinya tertutup sehingga air bisa dibendung, nggak usah repot-repot bikin gundukan, langsung saja tuang air ke wadah tersebut. :)

Sebagai penutup, kami akan berikan tabel komposisi berat semen, pasir, dan kerikil, serta volume air yang dibutuhkan untuk membuat 1 m3 beton dengan mutu tertentu.

Mutu Beton Semen (kg) Pasir (kg) Kerikil (kg) Air (liter) w/c ratio
7.4 MPa (K 100) 247 869 999 215 0.87
9.8 MPa (K 125) 276 828 1012 215 0.78
12.2 MPa (K 150) 299 799 1017 215 0.72
14.5 MPa (K 175) 326 760 1029 215 0.66
16.9 MPa (K 200) 352 731 1031 215 0.61
19.3 MPa (K 225) 371 698 1047 215 0.58
21.7 MPa (K 250) 384 692 1039 215 0.56
24.0 MPa (K 275) 406 684 1026 215 0.53
26.4 MPa (K 300) 413 681 1021 215 0.52
28.8 MPa (K 325) 439 670 1006 215 0.49
31.2 MPa (K 350) 448 667 1000 215 0.48

Referensi tabel :
SNI DT – 91- 0008 – 2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton, oleh Dept Pekerjaan Umum.

Kita biasa mendengar istilah engineered building dan non-engineered building. Engineered building adalah bangunan yang didesain dan dibangun dengan memperhatikan kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang berlaku dalam aspek engineering, misalnya untuk tiap bukaan pintu dan jendela harus ada pengaku (stiffner) di tepi bukaan bisa berupa kolom beton praktis dan balok lintel (saya lupa istilah lapangannya apa), di bagian atas dinding bata harus ada balok ring, begitu pula di bagian pondasi harus ada sloof atau tie beam (balok pengikat). Semua komponen tersebut tentu ada fungsinya, dan masih banyak aspoek-aspek lain.

Tapi, ada juga yang termasuk kategori semi-engineered building. Bangunan jenis ini didesain dan direncanakan dengan baik dan memperhatikan semua aspek-aspek engineering, tapi pada pelaksanaannya ada aturan-aturan yang diabaikan sehingga tujuan desain tidak tercapai seutuhnya. Contoh kasus yang bapak ceritakan bisa jadi termasuk di kategori ini. Pondasinya sudah didesain dengan matang termasuk mutu beton dan pembesiannya, tapi ternyata ada masalah dalam hal metode konstruksinya.

Mengecor di genangan air tidak sama dengan mengecor di atas permukaan yang kering. Kalau genangan airnya relatif sedikit, biasanya campuran air sewaktu mengaduk agak dikurangi, dengan harapan genangan air yang ada diperkirakan bisa mencukupi kadar air yang dibutuhkan. Tapi, kalau genangan airnya cukup banyak, prosedur yang benar adalah air tersebut harus dipompa keluar terlebih dahulu baru beton dicor. Masalah apakah nanti ada air yang masuk lagi itu masih bisa diterima, kecepatan permeabilitas (aliran air di pori-pori tanah) relatif lambat, yang penting beton dituang dan dipadatkan dalam kondisi tidak terendam air.

Contoh ekstrim, pondasi bore-pile. Rasanya kita jarang menemukan lubang yang digali sedalam 20 m (misalnya) tapi tidak ada air tanahnya. Hampir mustahil untuk sebagian besar daerah di Indonesia. Makanya sebelum mengecor pondasi bore-pile, air di lubang tersebut dipompa keluar terlebih dahulu baru besi tulangan dimasukkan, dan beton pun dituang perlahan-lahan.

Kembali ke kasus, apakah beton tersebut bisa diterima. Secara engineering tentu tidak. Alasannya, pertama sewaktu menuang adukan beton, beton harus dipadatkan, entah itu menggunakan vibrator atau cukup ditusuk-tusuk dengan batang besi atau kayu yang bersih. Jika mengecor di genangan air yang volumenya besar, sewaktu pemadatan, sebagian campuran semen akan ikut menyebar keluar dari adukan menuju ke genangan air sehingga ikut mengambang di atas, tidak mengendap bersama dengan kerikil. Padahal yang mengikat kerikil adalah semen, yang menentukan kekuatan beton adalah semen (bisa dilihat dari tabel di atas). Jadi, secara otomatis kekuatan beton bisa berkurang.

Yang kedua, jika tidak dilakukan pemadatan dengan tujuan agar semennya tidak berhamburan keluar, yang terjadi adalah beton tidak akan menyebar secara merata, dan bisa jadi rongga sebelah bawah tulangan tidak akan terisi oleh beton, sehingga tulangaannya akan terekspos (tidak terselimuti beton), mudah mengalami korosi, dan akhirnya kekuatan pondasi menjadi berkurang (bahkan bisa hilang).

Itu pendapat pribadi saya. Saya sendiri belum punya pengalaman khusus dalam hal pengecoran di dalam air. Mungkin rekan-rekan yang sering mendesain bangunan di perairan lebih paham dengan hal ini.

Kasus di atas sebenarnya sangat disayangkan jika memang sering terjadi, soalnya pondasi alaah elemen struktur yang punya peranan paling penting. Artinya, tidak ada gunanya membuat kolom dan balok yang kokoh sementara pondasinya tidak diperhatikan (asal jadi).

Terakhir, anggapan semakin banyak air maka semakin kuat beton, saya yakin istilah tersebut TIDAK berasal dari sesorang yang punya pengetahuan dan pengalaman tentang beton. :)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 08/06/2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: